Ketika Kevin Jenkins mengajarkan cara penggunaan Internet kepada murid-murid kelas empat SD-nya di Spangler Elementary School, ia mengajarkan cara membuat situsweb, dimana murid-murid bisa memasang foto dan membuat polling survey.

Dan mereka berhasil. Tetapi ia terkejut ketika beberapa muridnya memasang survei-survei seperti “siapa teman kelas yang paling popular ?” dan “Siapa yang paling tidak disukai?”

Murid-murid Jenkins juga “senang bisa mengekspresikan diri,” katanya. “Mereka memajang semua data diri, menulis catatan harian, tidak berpikir bawa setiap orang akan melihatnya.”

Gelombang pertama kecemasan prang tua tentang Internet berfokus pada keamanan dari predator online, orang dewasa yang mengincar anak-anak  mereka. Belakangan ini, kecemasan baru muncul, tentang bagaimana anak-anak mereka bertingkah saat online, dan apa kesan yang bisa diciptakan oleh profil online mereka di benak pejabat sekolah atau calon majikan mereka suatu hari nanti.

Peristiwa bunuh diri seorang gadis, murid baru di South Hadley High School di Massachusetts, karena ia diejek lewat online, telah menguatkan pendapat bahwa banyaj aanak yang masih belum menyadari bahaya dari perilaku khas remaha, geng-gengan, sok macho, sok setia kawan, rayuan seksual, godanaan alcohol dan obat-obatan terlarang, yang kini bertransformasi dari darat ke online.

Di Amerika, kasus South Hadley telah membuat beberapa Negara bagian memeriksa kembali aturan hokum mereka tentang bullying. Dan tahun ini Jenkins mulai menggunakan modul pelajaran dari Common Sense Media, yang memeringatkan murid untuk memertimbangkan perilaku online mereka sebelum merek terlibat dalam masalah.

Kini, Internet adalah tempat dimana anak-anak tumbuh. Menurut hasil kajian Kaiser Family Foundation, di Amerika Serikat, rata-rata orang muda menghabiskan tujuh setengah jam sehari dengan komputer, televise, atau smartphone. Mengingat bahwa waktu yang digunakan itu diluar sekolah, hasil kajian ini menunjukan bahwa hampir setiap jam ekstrakurikuler diabaikan untuk kehidupan online.

Common Sense Media menawarkan kurikulum gratis ke sekolah-sekolah, mengajarkan bagaimana cara berperilaku online. Modul pelajarannya berdasarkan riset oleh Howard Gardner, seorang professor psikologi dan pendidikan di Harvard, dikelompokan ke dalam topik-topik yang ia sebut “ethical fault lines” : identitas, bagaimana anda menghadirkan diri secara online? : privasi, dunia dapat melihat segala sesuatu yang anda tulis; kepemilikan, plagiatisme, reproduksi karya kreatif, kredibilitas, sumber informasi yang sah; dan komunikasi, interaksi denga orang lain.

Kelas mendengarkan ketika Jenkins membacakan kisah tentang seorang gadis yang menjadi kesal ketika orangtuanyamenanyakan catatan harian onlinenya.

Lucas Nvarrete, 13, bertanya , “Apa hak mereka untuk membaca urusan pribadinya ?”

“Mungkin mereka kuatir. “ Kata Morgan Windham, sorang gadis bersuara lembut.

“Jurnal itu ‘kan sudah di-pblik-kan ! Siapapun boleh membacanya” bantah Aren Santos

“Ok, Ok jika itu catatan pribadi dan mereka membacanya, apakah kamu akan senang?” Tanya Lucas. “Mereka tidak berhak.”

Jenkins bertanya kepada kelas apakah ada perbedaan antara catatan harian di kertas dan catatan harian online yang bersifat public. Tetapi kelas tidak bisa mencapai kata sepakat.

“Aku sih menyimpan untuk diri sendiri dan hanya memberitahkannya kepada orang-orang yang sngat dekat denganku,” kata Cindy Nguhyen setelah kelas usai. “Kami ingin mempunyai ruang pribadi yang privat.”

Garis kabur antara ruang public dan privat itulah yang ingin dibahas oleh Common Sense. Tetapi beberapa ahli media mengatakan bahwa dengan berfokus pada isu-isu social, Common Sense melewatkan beberapa masalah structural yang lebih besar yang dihadapi oleh anak-anak online.

“Kita tidak bisa hanya terfokus pada prang dan relasi,” kata Joseph Turow, seorang professor pada Annenberg School for Communication di University of Pennsylvania. Anak-anak harus belajar tentang hal-hal seperti apakah cookie atau virus Web itu, dan bagaiman perusahaan mendapat keuntungan dari pelacakan konsumen ketika merek online.

Bagaimanapun, kehidupan online adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari lagi, sebuah dunia baru, yang penuh dengan potensi, peluang dan bahaya, dan anak-anak kita, bahkan yang masih SD, sedang berlayar da;a, dunia tersebut.

Source : “Median Kawasan  – June 2010”

Article by Stephanie Clifford
©2010 New York Times News Service

Artikel ini menunjukan bahwa dunia informasi kini telah menjadi bagian dari hidup, dan sadar atau tidak sadar kini setiap orang selalu menjalani aktivitas online dalam kesehariannya. Dalam artikel di atas, diceritakan bahwa anak-anak SD kini telah mendapatkan pengetahuan untuk melakukan aktivitas online. Sebenarnya hal ini adalah hal yang baik, memperkenalkan mereka dalam dunia ini, namun tetap diperlukan pengawasan yang cukup ketat terhadap apa yang mereka lakukan dalam dunia online.

Dalam Knowledge Management terdapat komponen yang dapat dikatakan sebagai fondasi dasar yaitu, people, teknologi, dan proses. Agar dapat berjalan dengan baik, salah satu faktornya adalah KM harus didukung dengan orang-orang yang ada di dalamnya dengan budaya sharing knowledge yang baik. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan memperkenalkan teknologi dan mengajarkan mereka tentang hal ini, dan membiasakan mereka untuk sharing informasi. Misalnya dengan menggunakan web pribadi, seperti yang diceritakan pada artikel diatas. Anak-anak SD sudah mulai diajarkan untuk membuat web pribadi dan mengekspresikan diri mereka melalui web tersebut. Hal ini akan mendorong mereka untuk menulis tentang diri mereka. Hal ini dapat dilakukan perusahaan untuk mendorong anggota perusahaan mereka, dengan mewajibkan atau membiasakan mereka untuk menulis dan berbagi informasi serta pengetahuan yang mereka miliki.

Prime Number

June 2nd, 2010

2.750 – jumlah puing-puing yang mengorbiti bumi yang disebabkan aktifitas luar angkasa China.

4.350 – jumlah puing-puing yang mengorbiti bumi yang disebabkan aktifitas luar angkasa Rusia dan Uni Soviet

4.280 jumlah puing-puing yang mengorbiti bumi yang disebabkan aktifitas luar angkasa Amerika.

1.247 jumlah puing-puing yang mengorbiti bumi yang disebabkan aktifitas luar angkasa Negara-negara lain.

12.627 – Total jumlah puing-puing ampas aktifitas luar angkasa, yang mengorbiti bumi, sehingga meningkatkan kesuliatan pesawat luar angkasa berikutnya ketika akan meninggalkan bumi.

1:8 – Perbandingan jumlah air dan pasir yang paling baik utnuk membuat kastil pasir.

36,96 – Perkiraan jumlah gallon air yang diperlukan untuk menanam, memproduksi, mengemas, dan mengirimkan biji kopi yang diperlukan untuk membuat secangkir kopi.

633,6 – Jumlah gallon air yang digunakan untuk membuat sepotong hamburger.

Source : Media Kawasan – June 2010

Para ilmuan Australia menemukan sebuah unsure yang tak terduga dalam upaya memerangi perubahan iklim : tinja ikan paus !

Para ahli dari Australia Antarctic Division menemukan bahwa tinja ikan paus – yang sebagian berasal dari krill yang dikonsumsi oleh mamalia laut raksasa itu – efektif dalam memupuk air laut.

“Ketika paus memakan krill yang kaya akan zat besi, mereka mengeluarkan kembali sebagian zat besi itu ke dalam air, dan karenanya menyuburkan laut dan memulai siklus ranta makanan,” kata ilmuwan Steve Nicol.

Riset menunjukan bahwa tinja paus dapat membantu pertumbuhan tanaman laut, dan karenanya meningkatkan kemampuan laut untuk menyerap karbon dioksida, salah satu penyebab pemanasan global.

Zat besi adalah unsure yang penting dalam kehidupan tanaman laut, algae, yang menghisap karbon dioksida ketika mereka bertumbuh. “Sepertiga dari lautan dunia mengandung zat besi dalam jumlah rendah,” kata periset pada Antarctic Climate Research Center.

Setiap harinya paus mengonsumsi beberapa ton krill, suatu spesies mirip udang kecil, dan  mereka kembali ke laut berupa tinja cair cokelat kemerahan dari mamalia raksasa ini.

Meskipun periset sudah menduga bahwa tinja paus mengandung zat besi, mereka terkejut menemukan konsentrasi yang demikian tinggi, yaitu sekitar 10 juta kali dibanding air laut Antartika.

Persian

June 2nd, 2010

Di Persia, seorang pria lebih diharapkan untuk menikah dengan wanita yang berasal dari status social yang sama dengan dirinya. Namun demikian, bila ia menginginkan untuk menikahi seseorang dar strata social yang lebih rendah darinya, ia dapat ‘menyewa’ sang gadis untuk menjadi istrinya dalam jangka waktu 99 tahun. Hal ini diungkapkan Stepen Arnott, penulis buku “Eating Your Aunntie is Wrong”.

Source : Media Kawasan – June 2010

Mata Dunia Terbesar

June 2nd, 2010

Chilli memenangkan hak untuk menjadi tuan rumah bagi teleskop terbesar yang pernah ada, kata European Southern Observatory (ESO) yang bermarkas di Munich, dan menyebut sarana itu sebagai “the world’s biggest eye in the sky”.

Telesko baru ini, European Extremely Large Telescope (ELT), akan mulai dibangun bulan Desember 2011, biayanya diperkirakan 1,3 miliar dollar. Proyek ini melputi pembuatan sebuah teleskop yang sangat besar dengan cermin bergaris tengah 42 meter – hamper sebesar kolam renang ukuran Olimpiade. Teleskop ini akan memungkinkan pengintipan optikal dan inframerah ke langit.

Menurut ESO, suatu agensi riset astronomi antar-pemerintah, ELT bisa sama revolusinya dengan teleskop Galileo 400 tahun lalu yang menemukan bahwa matahari – dan bukan bumi – adalah pusat semesta kita.

Para penganjurnya mengatakan bajwa gunung Amazones, dengan ketinggian 3.060 meter di atas permuakaan laut, di utara gurun Chili adalah tempat yang sempurna karena pada 320 malam dalam setahun, langitnya bebas dari awan. Daerah ini memiliki kelembaban yang sangat rendah dan juga bebas dari berbagai badai.

Source : Media Kawasan – June 2010